Ketika Kenal Jakob Oetama: Wartawan dan Filsuf
MESKIPUN telah melalui beberapa waktu semenjak beliau meninggal dunia, tetapi masa lalu di hari-hari pertama serta setelah itu yang tidak terlewatkan ini saya gali untuk menghormatinya sebagai rekanan mendiang dalam karier atau kekerabatan.
Waktu itu, kami, beberapa wartawan delegasi yang terbagi dalam pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dari sebagian besar Nusantara, sedang menanti di lobby serta bersiap-siap masuk ruangan sidang buat hadiri Kongres Luar Biasa PWI (KLB-PWI, November 1965). Satu bulan 1/2 selesai pemberontakan Pergerakan 30 September 1965/PKI yang dihentikan TNI-AD.
Beragam Permainan Judi Slot Terlaris 2020 KLB diadakan di gedung Press Centre, di samping utara Hotel Indonesia (sekarang jadi toko/mall). Mendadak pintu depan lobby itu terbuka. Ada P.K. Ojong, dengan cara mantap masuk lobby. Dibelakangnya disertai lelaki yang berjalan cukup membungkuk sekalian tersenyum melihat keliling pada beberapa orang yang ada disana.
"Saudara-saudara! Saya perkenalkan saudara Jakob Oetama, pimpinan redaksi yang baru koran kami, Kompas!" tutur Ojong keras seperti kesukaannya jika harus bernada keras.
Sekalian mempersilakan lelaki yang berada di sebelahnya itu, Ojong, penerbit serta pimpinan umum media massa besar Keng Po yang dilarang Komando Operasi Keamanan & Keteraturan (Kopkamtib) serta bertukar jadi harian 'Kompas' di bawah naungan Partai Katolik, sekalian tertawa-tawa memerhatikan Jakob Oetama menyalami kami yang ada disana.
Itu kali pertamanya kami, beberapa wartawan pengurus PWI Cabang serta beberapa Perwakilan se Indonesia yang dapat ada di Jakarta pada situasi itu kenal figur Jakob Oetama.
Lelaki asal Borobudur, Magelang (Jawa Tengah). Cerita dianya yang terhembus, pria protolan Sekolah Kepastoran itu membelot masuk Jurusan Publisistik FISIP (selanjutnya jadi Fak. Komunikasi) Kampus Gadjah Mada Jogjakarta hingga gagal jadi rohaniawan sebab tertarik jadi wartawan.
Kenyataannya, demikian harian Kompas dipercayai untuk digenggamnya, bisa berubah jadi harian yang penting di pelataran mass media Indonesia. Semenjak berkuliah ia diketahui sama-sama rekanan kuliahnya untuk penekun buku-buku pengetahuan, kecuali mengenai pengetahuan komunikasi serta jurnalistik pengetahuan filsafat serta lulus untuk sarjana-publisistik berharga baik.
KLB PWI yang berkeputusan mengeluarkan ketua umum Karim DP serta sekjennya Satyagraha dan beberapa anggota pengurus yang kesemuanya terlibat pekerjaan PKI serta organisasi-organisasi hubungannya, mendudukkan ketua umum baru, H.Mahbub Djunaidi (pimpinan redaksi harian Duta Warga punya Partai NU).
Jakob Oetama tahun kemudiannya ditarik di dalam Kepengurusan PWI Pusat sebab fungsi medianya. Pada saat itu saya ada dalam kesibukan PWI Pusat sebagai pelatih/pelatih pendidikan pada Karya Latihan Wartawan (KLW) buat beberapa anggota PWI se Indonesia.
Kenal beliau bertambah dekat berjalan saat diselenggarakan Pertemuan Kerja Nasional (Konkernas 1969) PWI se Indonesia di kompleks Pesanggerahan Kinilow, lereng kawah Gunung Lok Sukon, di antara kota Manado-Tondano. Kamarnya berdampingan dengan kamar saya.
